Bahasa Indonesia Pada Tataran Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah Dan Penggunaan Bahasa Indonesia dilingkungan Keluarga

1.Wacana Yang Membedakan Pemanfaatan Bahasa Indonesia Pada Tataran Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah

Wacana Ilmiah

  • Karya ilmiah merupakan sebuah pengkajian yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah kelompok. Jadiwacana ilmiahadalah wacana yang memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode penggunaan bahasa. Contoh : skripsi, disertasi, tesis dan lain-lain.

Arti lain wacana ilmiah

Wacana Ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan, yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis    yang formal dengan sistematis-metodis dan sintesis-analitis.

Dalam tataran ilmiah, bahasa Indonesia sangat wajib diperlukan terutama dalam penulisan karya ilmiah, sehingga bahasa yang baik dan benar sangat diperlukan agar pemahaman bahasa dalam satu paragraph ke paragraph lainnya dapat dimengerti.

Bahasa indonesia yang baik seharusnya sudah di tanamkan sejak dini, agar anak-anak dapat berbahasa dengan baik dan sopan. Sekarang ini kebanyakan bahasa telah mulai dipersalahgunakan oleh banyak orang, yang menggunakan bahasa tersebut tidak pada tempatnya sehingga menimbulkan kerancuan dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, sebaiknya sejak dini kita harus membiasakan diri menggunakan bahasa yang baik dan benar sehingga pemanfaatan bahasa dapat di rasakan dengan baik oleh semua pihak.

Contoh Wacana Ilimiah

Cara Mengatasi dan Mencegah Ejakulasi Dini secara Alami

Cara mengatasi ejakulasi dini pada pria atau bagaimana cara mencegah ejakulasi dini secara alami akan diulas disini.

Pengertian ejakulasi dini disini adalah ketidakmampuan mengontrol terjadinya ejakulasi sehingga terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Pria yang mengalami ejakulasi dini merasa tidak puas karena hubungan seksual segera berakhir, sementara pasangannya juga tidak puas.

Pada ejakulasi dini, ereksi penis tetap normal. Tetapi kalau tidak segera diatasi, pada akhirnya ejakulasi dini dapat mengakibatkan disfungsi ereksi. Sebaliknya pada disfungsi ereksi, terjadi kecenderungan ejakulasi dini. Artinya, pria yang mengalami gangguan ereksi, pada umumnya juga mengalami ejakulasi dini.

Ejakulasi dini dapat disebabkan oleh kebiasaan mengalami orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa pada masa lalu, gangguan syaraf yang berkaitan dengan ejakulasi, dan infeksi bagian kelamin. Tetapi kini diketahui penyebab ejekulasi dini, berkaitan dengan kurangnya berfungsinya serotonin di dalam tubuh kita.

Pria perokok atau mengalami diabetes berisiko mengalami disfungsi ereksi. Tetapi akibat akhirnya dapat terjadi ejakulasi dini juga. Namun pengobatannya pasti berbeda, antara ejekulasi dini dan disfungsi ereksi yang mengakibatkan ejakulasi dini.

Wacana Semi Ilmiah

Semi Ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen. Karakteristiknya : berada diantara ilmiah

Arti lain Wacana non ilmiah

Wacana pada Tataran Semi Ilmiah merupakan wacana yang karakteristiknya berada di antara ilmiah dan non ilmiah.
Jenis-Jenis Wacana Semi Ilmiah : Artikel,Editorial,Opini,Feuture,Reportase.

Contoh wacana semi ilmiah

Contoh-contoh kalimat opini

  1. Dokter memperkirakan, jika kembali sadar, kemungkinan Yanto bisa mengalami kerusakan ingatan, bisu, atau lumpuh.
  2. Kisah Yanto ini juga sekaligus membuka kembali borok-borok kondisi sosial, ekonomi, dan bahkan politik negara kita. Wajib belajar yang digembar-gemborkan ternyata masih merupakan impian indah.
  3. Banyak orang Muslim yang tidak bangga menjadi Muslim dan tidak menjadikan tokoh-tokoh Islam sebagai idola mereka karena tidak mengenal sejarah Islam dengan benar.
  4. Semangat ilmiah dan perjuangan dalam dakwah Islam perlu kita warisi dari para ulama dan tokoh seperti Buya Hamka.
  5. Melihat tema yang dibahas dalam disertasi Abd. Moqsith tersebut, harusnya para ahli tafsir di Indonesia tertarik untuk menyimaknya.

Wacana Non Ilmiah

  • Wacana non ilmiahbiasanya berupa cerita/tulisan yang bukan berdasarkan fakta, seperti cerpen, cerbung dsb. tidak ada metode khusus dalam bahasa penulisan, menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak kaku dan mudah dimengerti.

Arti lain Wacana non ilmiah

Non Ilmiah (Fiksi) adalah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb.

Ciri-ciri wacana non ilmiah:

  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
  • Fakta yang disimpulkan subyektif,
  • Gaya bahasa konotatif dan populer,
  • Tidak memuat hipotesis,
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah,
  • Bersifat imajinatif,
  • Situasi didramatisir, dan
  • Bersifat persuasif.

Contoh wacana non ilmiah

Kisah Semut Dan Kepompong

Dikisahkan ada sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah disana bermacam-macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan sebagainya. Pada suatu hari datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu datang seketika sehingga membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Semua hewan panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.

Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang terjadi? banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan tersebut menjadi hutan yang berantakan.

Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. “Hu..huu…betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satupun yang aman untuk berlindung..huhu..” sedih sang Kepompong meratapi keadaan.

Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata “Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada diatas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai” kata sang Semut dengan sombongnya.

Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.

“Tolong…tolong….aku terjebak di lumpur hidup..tolong”, teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, “Kayaknya kamu lagi sedang kesulitan ya, semut?” si Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang diatas lumpur hidup tadi.

“Siapa kau?” tanya si Semut galau. “Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina” jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. “Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah”. Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semutpun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.

Nah, hikmah yang bisa kita tarik dari dongeng diatas adalah, kita harus menyayangi dan menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan. Intinya semua ciptaan Tuhan harus kita kasihi dan tidak boleh kita menghina makhluk yang lain.

Sumber : http://omanz-freedom.blogspot.com/2013/01/wacana-yang-membedakan-bahasa-indonesia.html

  1. Penggunaan Bahasa Indonesia dilingkungan Keluarga

Dewasa ini, masalah mengenai pentingnya pendidikan karakter menjadi salah satu topik pembicaraan penting dalam masyarakat. Mulai dari komunitas di lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, serta berbagai macam media massa gencar memberitakan kasus-kasus terkait karakter anak. Hal ini tidak lain karena pandangan masyarakat terhadap sikap dan perilaku para kaum muda sekarang, di mana dianggap mengalami kemerosotan kualitas kepribadian. Hal ini menjadi keprihatinan masyarakat luas karena mereka mengkhawatirkan kondisi di masa depan apabila para penerus mereka memiliki karakter yang tidak baik.
Salah satu contoh kasus penyimpangan perilaku kaum muda adalah tawuran antar pelajar yang terjadi di Sukabumi. Peristiwa ini segera mendapat tanggapan serius dari semua pihak, seperti yang dilakukan di Kelurahan Subang Jaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, yakni menyelenggarakan penyuluhan dan penanganan kenakalan remaja, yang melibatkan pihak Polres Sukabumi, bertempat di Aula MTs AL-Mustofa, Kelurahan Subang Jaya. ( Dikutip dalam “Kasus Penyimpangan Perilaku Remaja Sangat Memprihatinkan”, dalam  http://rspdkotasukabumi.blogspot.com . Diakses pada 26 Maret 2012, pukul 13.46 WIB.)
Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter, seperti relasi dengan orang tua, pendidikan keluarga, cara bertindak, tata krama, bahkan cara berbicara yang erat kaitannya dengan penggunaan berbagai macam bahasa dalam percakapan sehari-hari. Semua faktor tersebut tidak lepas dari peranan orang tua dalam keluarga.
Melalui uraian di bawah ini, pembaca akan mengetahui secara lebih dalam mengenai bagaimana pengaruh penggunaan bahasa dalam keluarga terhadap pembentukan karakter anak. Pembahasan akan terfokus pada penggunaan bahasa ibu, yaitu bahasa yang pertama kali dikenal oleh setiap orang karena pengaruh lingkungan keluarga. Diharapkan orang tua dapat dapat memahami pengaruhnya serta dapat menjadikannya sebagai referensi dalam mendidik anak.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter. Namun, besarnya peranan masing-masing faktor berbeda, dan tentu saja berbeda pula pengaruhnya terhadap masing-masing individu. Hal ini dikarenakan berbedanya kondisi lingkungan hidup setiap individu terutama kondisi keluarga.
Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. (Dikutip dalam “Pengertian Individu dan Keluarga”, dalam  http://wartawarga.gunadarma.ac.id. Diakses pada 21 Maret 2012, pukul 13.58 WIB.) Pola tingkah laku inilah yang terbentuk karena pengaruh lingkungan sekitar. Individu memperoleh pola-pola tersebut dari keluarganya.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan karakter individu. Sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan yang sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Para ahli pendidikan meyakini, pada tiga tahun pertama usia anak adalah fase pembangunan struktur otak, sedangkan usia tujuh tahun hampir sempurna otak dibentuk. Pada umur-umur tersebut, anak sebagian besar waktunya berada di rumah. Dengan demikian keluarga sangat memberikan pengaruh dalam pembentukan kepribadian yang mendasar seseorang, seiring dengan fase perkembangan otak tersebut. (Dikutip dalam “Pendidikan Integratif dalam Keluarga”, dalam  http://sosbud.kompasiana.com. Diakses 21 Maret 2012, pukul 16. 21WIB.)
Keluarga menjadi sarana pendidikan awal bagi setiap individu sehingga diperlukan pemahaman yang lebih agar anak memperoleh hal-hal yang baik pada awal perkembangannya. Zaman yang semakin berkembang juga membuat orang tua harus semakin barhati-hati dan memberi pengawasan lebih terhadap anaknya agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman.
Sebagaimana dengan yang sering ditemukan di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, sifat-sifat anak pada umumnya menurun dari orang tuanya. Misalnya, seorang Bapak yang tegas memiliki anak yang tegas pula, seorang Ibu yang sabar dan lemah-lembut memiliki anak dengan sifatnya lemah-lembut pula. Kembali lagi hal ini merupakan pengaruh yang diberikan oleh orang tua. Sifat-sifat tersebut ditiru oleh anak-anak karena sifat-sifat itulah yang selalu mereka lihat setiap hari. Anak memperhatikan cara bagaimana orang tuanya bertindak. Anak juga memperhatikan bagaimana orang tuanya berbicara. Mereka meniru semuanya secara persis sehingga dianggap sebagai plagiat ulung. Hal yang paling mudah ditiru adalah bahasa yang digunakan orang tuanya, karena bahasa yang membawa orang tua dan anaknya ke dalam intraksi yang sesungguhnya.
Bahasa merupakan hal yang sangat berperan dalam kehidupan manusia untuk menciptakan suatu komunikasi dan interaksi antar sesama. Berbagai macam bahasa telah menjadi sarana dalam pembentukan lingkungan hidup dan kepribadian setiap orang.  Menurut Bill Adams, bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif. ( Dikutip dalam “Defenisi Bahasa”, dalam http://carapedia.com. Diakses 21 Maret 2012, pukul 15.41WIB.)
Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi. (Ibid.)

Beberapa pengertian bahasa tersebut menerangkan adanya korelasi antara bahasa itu sendiri dengan proses perkembangan karakter individu. Di mana tanpa disadari, bahasa telah membentuk pola bicara seseorang dan mempengaruhi pola perilakunya sehari-hari. Setiap orang dapat mewarisi bahasa dari orang tuanya. Bahasa ini disebut bahasa ibu.
Bahasa ibu atau bahasa asli atau bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka. Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi sulit. Bahasa asli oleh karena itu memiliki peran pusat dalam. (Dikutip dalam “Orang Tua Modern Abaikan Bahasa Ibu”, dalam  http://sosbud.kompasiana.com. Diakses 21 Maret 2012, pukul 16. 01WIB.)
Dalam tahun-tahun awal perkembangan, pertama kali anak akan mengenal bahasa yang digunakan orang tuanya karena pada umumnya orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak. Anak akan memahami bahasa tersebut dan tentunya akan mewarisinya. Bahasa ini akan berperan dalam pembentukan karakter anak sehingga menyerupai orang tuanya. Ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ini berarti setiap anak akan memiliki sifat dan tabiat yang tidak jauh dari orang tuanya, walaupun pada kenyataannya dalam beberapa kasus terdapat ketidaksesuaian.
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.  (Dikutip dalam “Pengertian karakter “, dalam   http://koleksi-skripsi.blogspot.com. Diakses 21 Maret 2012, pukul 16.16WIB.)
Karakter yang dimiliki setiap anak dari keluarga berbeda pun akan ikut berbeda karena perbedaan bahasa yang dimiliki, seperti makna dari istilah  lain ladang lain belalang. Contohnya adalah anak dari suku Jawa yang mengenal bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, pada umumnya akan memiliki karakter yang halus dan sopan dalam berperilaku dan berbicara. Hal ini terjadi karena karakter itulah yang pada umumnya dimiliki oleh masyarakat suku Jawa dan telah menjadi ciri khasnya. Sebagai orang Jawa asli tentunya oran tua tersebut memiliki kemampuan berbahasa Jawa yang baik yang tanpa disadari mempengaruhi anaknya karena adanya interaksi antara orang tua dan anak.
Contoh lainnya adalah anak dari suku Batak yang mengenal bahasa Batak sebagai bahasa ibunya. Mereka akan memiliki karakter yang keras dan tegas karena pada umumnya begitulah cara masyarakat suku Batak dalam bekomunikasi. Contoh ini memberi gambaran mengenai perbedaan yang kentara dari penggunaan bahasa ibu yang umumnya merupakan bahasa-bahasa daerah terhadap karakter yang dimiliki.
Setiap bahasa daerah di Indonesia memiliki karakternya masing-masing, yang mampu membawa setiap penggunanya memiliki karakter tersendiri. Namun, hal ini dapat terjadi apabila dalam suatu keluarga memang menerapkan penggunaan suatu bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari karena apabila tidak digunakan, seperti contoh keluarga yang menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-harinya maka anak-anak akan memiliki karakter yang berbeda pula.
Di zaman sekarang, pengaruh penggunaan bahasa ibu seolah berkurang dikarenakan tidak sedikit orang tua yang mengabaikan bahasa ibu. Hal ini dipengaruhi pula oleh adanya perkembangan globalisasi di mana orang-orang banyak meninggalkan kebudayaaan aslinya dan menganut kebudayaan-kebudayaan baru hasil globalisasi.
Namun, pada dasarnya, orang tua hanya menginginkan agar anaknya memiliki karakter yang baik yang dapat menjadi panutan bagi anak-anak yang lain terlepas dari bahasa apa yang dipergunakannya dalam berkomunikasi. Individu berkarakter yang baik memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan niali-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. (Dikutip dalam “Apa Pendidikan Karakter itu?”, dalam  http://akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses 21 Maret 2012, pukul 15.46 WIB.)

Bahasa merupakan suatu hal yang perlu untuk menetukan karakter seseorang, karena bahasa merupakan sarana pembentuk interaksi dan komunikasi antar individu. Bahasa tertentu dapat membentuk suatu karakter tertentu yang dapat dijadikan sebagai suatu kekhasan. Orang tua mengambil peran yang penting dalam tahap awal pengenalan bahasa kepada anaknya. Bahasa apa yang dikenalkan oleh orang tua kepada anaknyalah yang akan menjadi faktor pendukung awal terbentuknya karakter anak tersebut. Positif ataupun negatif karakter yang dihasilkan, hal ini dipengaruhi oleh cara orang tua menyampaikan bahasa tersebut karena pada dasarnya setiap bahasa memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai sarana komunikasi. Diharapkan orang tua dapat memahaminya dan mempu memberikan yang terbaik guna menciptakan anak-anak dengan karakter yang baik.

Sumber : http://theresianurmalita.blogspot.com/2012/03/pengaruh-penggunaan-bahasa-lokal-dalam.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s